ads

Wednesday, July 20, 2011

Mengapa 4 Inde Collaborate ke Bali?

 Lukisan mural di Airport Ngurah Rai.


Berlatar-belakangkan monumen Pengeboman Bali yang berlaku 12 Oktober 2002 di Pekan Kuta, yang mengorbankan 202 orang dan mencederakan 209 yang lain. Kebanyakannya pelancung asing.


Sekitar Julai 2009, 'Indiana Jones Jalan Riong' (sila layari: http://sheikhmustafakamal.blogspot.com/2009/07/candi-borobudur-dari-kaca-mata-indiana.html) pernah investigate reporting ke Jogja pengkhususan Candi Borobudur.

Komentar mereka gampang, bukan pemandangan alam saja yang indah, tetapi soalnya segala tempat bersejarah ribuan tahun. 

Dan tahun ini, '4 Indiana Jones Jalan Riong' kembali menjengah ke Bali. Ini kerana telah digula-batukan oleh penulis yang sudah dua kali melawat Bali. Banyak keajiban di sana, selidiklah... 

Rombongan kali ini, John Roos, Ir Fauze, Ben Den dan John Ally Todd (terlepas Inde Ezam Chelsea) berlibur di Bali.

 
 John Roos dengan helmet exotic ala punk di Ubud.

Apa sebenarnya yang menarik dan yang dapat diceritakan secara khusus tentang Bali ini? Tanya penulis sekembalinya Inde-Inde? Bali "memang lain" dari yang lain. Dapat di simpulkan, bahwa hampir setiap orang Bali adalah seniman!, jawab John Roos terkuntang dan menafikan keajiban.

 
 Dengan Rupiah5 ribu terhasillah lukisan Bali di t'shirt.

Orang Bali lebih dari 90 persennya adalah tahu dan mengenal seni, bahkan banyak yang menguasainya. Kalau tidak sebagai pengukir, atau penari, tentulah pemahat, pematung atau penabuh gending, atau pemain muzik, alat muzik Bali. Atau penghasil kerajinan tangan yang mengandung dan berisikan seni yang amat berkualitinya. 

Agama orang Bali, Hindu, banyak sekali meritualkan wajah seni, seperti berbagai perwujudan tarian. Dari segi agamanya saja, banyak menuntut orang Bali agar mendalami beberapa mata acara yang bersifat seni. Kebiasaan dari kecil begini, menjadikan suatu kehidupan yang rapat dan bersenyawa dengan kesenian. Pantaslah ada nyanyian yang sudah hidup puluhan tahun, yang sampai kini masih dinyanyikan, 

 
Penjual jagung di pantai.... . Inde-Inde bersantaian sambil menunggu matahari terbenam sambil disajikan tarian tradisional Bali yang 'ngangkung'.

Pulau Bali Pulau Kesenian. Dalam perjalanan kehidupan, atau selama hidupnya, orang Bali akan banyak menemui berbagai upacara ritual agama yang mengandung kesenian. Misalnya seseorang anak-gadis atau pemuda seharusnya bisa menari, bisa mengukir, bisa memainkan alat musik, dan membacakan sajak-sajak mantra, doa yang penuh puitik. Seluruh jelujur kehidupan agama begini, menjadikan orang Bali banyak mengetahui, bisa dan menguasai banyak mata acara kesenian.



 
Pemandangan yang sentiasa berubah-rubah, kalau bernasib baik kita akan dapat melihat pelangi, kabus tebal berarak dan terkadang hujan atau mendung. Kintamani merupakan tempat terindah dan tinggalan gunung berapi yang pernah meletup. 

Lalu alam Bali memang sangat indah. Perpaduan pantai, laut dan pemandangan pegunungan, padang rumput yang memang banyak "dihidupkan" sebagai penghias, bukannya lapangan golf, menambah plus nilai keindahan Bali. Lalu keramah-tamahan penduduk Bali betul-betul bisa dijadikan ladang yang paling subur buat pasar wisata, tanpa pengertian negative.
 

Walaupun pemandangan alam yang luar-biasa bagusnya, tetapi kalau penduduk sekitarnya atau para pekerja-wisatanya tidak ramah, pemarah, dan selalu curang dan sangat tidak jujur, maka kaum touris takkan lagi punya minat kembali ke tempat itu! Dan di sinilah kemenangan Bali. 

 Pemandangan indah di Uluwatu Temple.

Ambillah contoh dunia wisata Lombok dan Jogja, alam wisatanya sangat bagus, masih asli, belum banyak terpengaruh luar. Tetapi menurut Indiana Jones Jalan Riong, pekerja-wisatanya belumlah se-profesional orang-orang di Bali. Bali dalam soal pekerja-wisatanya, mengingatkan kita pada profesionalnya orang Thailand di Pattaya, Phuket. Setiap orang yang ada hubungannya dengan pekerjaan wisata, selalu tahu benar dan menguasai apa yang harus dikerjakannya. Apa yang harus didulukan, mendapat priority utama buat menyenangkan para tamu, membikin rasa senang dan puas para wisatawan dalam dan luar negeri. Dan ini benar-benar dijalankan di Thailand, termasuk juga di Bali. Itulah sebabnya yang membedakan antara Bali dengan daerah atau tempat lainnya, dalam persoalan pekerjaan profesional ini. Mungkin Bali karena punya pengalaman sejak puluhan tahun yang lalu.

 
 Ben Den di pintu gerbang ke pantai Sanur.

Orang yang sudah terbiasa menjalani pengalaman wisata, tentulah akan merasakan bahwa Bali memang lain dari daerah lainnya. Ada nilai plusnya yang tersendiri. Baik secara alamnya, maupun manusianya dengan ritual agamanya yang di tempat lain tidak terdapat. Lalu apakah yang ditemukan yang agaknya baru dengan perbandingan yang tahun-tahun lalu? Tentu saja cukup banyak. Tetapi paling menonjol, kalau dulu Bali dengan enak dilalui jalan lalu-lintas mobil yang cukup lancar, maka kini kemacetan bertambah "menggumul" perkotaan. Kini jalaraya di Bali dijadikan jalan sehala cukup menambahkan 'kemacetan'.

  
Aksi Ben Den (bermediatasi) selepas kacamata dicopek oleh kera dan dilarikan ke pokok tinggi. Puas dipujuk kera itu tetap nonong. Diberikan Rupiah10 ribu kepada peniaga kedai makan berhampiran untuk mendapatkannya lalu peniaga itu menghulurkan telur kepada kera tersebut dan berakhirlah 'truma'. Ngeri aku, teriak Ben Den...

Seorang kawan yang lain juga terkena: Kebarangkalian kera-kera ini telah dilatih bagi mendapatkan RM...


 
Selepas pulang dari Kintamani, pekena kopi ginsing... bercadang nak pekena Kopi Luak tetapi musang di serang penyakit sembelit...  'kantoilah plan malam ini'.


Dan pengaruh asing sudah semakin menonjol. Di Hotel, sama sekali sudah tak ada lagi keterangan yang berbahasa Indonesia. Dan tv hanya menyiarkan satu pemancar saja yang dari Jakarta, yang lainnya semua tv asing, Barat, Hongkong dan Jepun. Dan yang gilanya lagi, di Hotel, rupiah tidak laku! Semua harga dengan dollar AS, lalu nantinya nilainya diurus dengan rupiah, tapi rupiahnya tak pernah muncul! Dan makanannya sangat mahal, ada yang lebih mahal daripada di Perancis maupun di Holland. 


Badang M'sia bikin gempar di Bali degan kuasa tolakan batu..

Lalu, apa yang boleh dikongsikan di Bali? "Banyak, keramahan penduduknya, keseniannya", terang Ben Den selamba. John Roos tidak menafikan dan memberitahu telah memborong hampir 10 keping lukisan. "Apa aku kisah, sampuk Aji Anep (Pengembara Sufi) semangkok, lalu mengesyorkan Inde-Inde ini pergi ke Lombok. Banyak lagi menarik di sana, Bali kalah....  "Aaa.... ni aku kisah".

* Aji Anep - Pengembara Ibn Battuta/Sufi Moden ke Lombok melalui Bali. Beliau pernah menjelajah Eropah dan kebanyakkan negara sebelah Asia menceritakan perihal lelaki Lombok dan penafian melarikan anak gadis orang Malaysia serta keindahan buminya. Tunggu, keluaran akan datang.

Catatan dari Sobron Aidit dan catatan pengalaman Indiana Jones Jalan Riong.

Layari: http://sheikhmustafakamal.blogspot.com/2008/07/bali-selepas-sabtu-kelabu.html
Layari: http://sheikhmustafakamal.blogspot.com/2008/07/gunung-berapi-batur-pari-manta-dan-gwk.html

3 comments:

Ashullies@Rosli Mohamed said...

Bali sememangnye unik..mmg unik!

sheikh mustafa kamal al aziz said...

Suatu Subuh di Bali

Kendati tersandung kendala, keharmonisan antarumat beragama tetap terjalin. Matahari belum sepenuhnya terbit. Hawa pagi pun terasa menggigit. Agaknya, tawaran untuk menarik kembali selimut dan meringkuk di baliknya sungguh lebih menarik.Namun, tidak untuk ratusan orang yang sudah memadati Masjid Baitul Makmur, Monang Maning, Denpasar, Bali.

Mereka memilih untuk memenuhi seluruh ruangan masjid. Bahkan, puluhan orang terpaksa menggelar sajadah di teras dan halaman untuk menunaikan ibadah shalat Subuh berjamaah."Setiap hari seperti ini," ujar Subekti yang sudah tinggal di kawasan Monang Maning Bali sejak 1985. Bila biasanya masjid-masjid lain penuh saat Maghrib, ceritanya berbeda di Bali. "Entah sejak kapan kebiasaan ini ada, yang jelas masjid-masjid Bali biasanya ramai ketika Subuh," kata Subekti.Suasana Subuh yang berbeda hanyalah sepenggal kisah dari masyarakat Muslim di Bali. Wilayah yang warganya mayoritas beragama Hindu itu menyuguhkan kisah tersendiri tentang kehidupan masyarakat Muslim di negeri para dewa tersebut. Bermukim di Bali, masyarakat Muslim pun segera menyadari keberadaan mereka sebagai minoritas.

Berdasarkan data Majelis Ulama Indonesia (MUI), pertumbuhan warga Muslim di Bali hanya sekitar satu persen dalam tiga tahun. Namun, ada pula survei lainnya yang menunjukkan pertumbuhan Muslim di Bali cukup besar hingga mencapai 45 persen dari total penduduk Bali. Namun, mereka tetap menikmati suasana ibadah yang terbilang kondusif. "Muslim Bali, terutama yang bermukim di kota, diberikan keleluasaan untuk beribadah," ujar Mukhtar Baasyir, tokoh Islam Kampung Jawa, Bali.

Di Bali, kata toleransi beragama boleh dibilang amat dijunjung tinggi. Secara umum, kehidupan beragama di Bali memang sangat harmonis, terutama di kota. Suasana yang amat kental terasa saat perayaan hari besar keagamaan. "Biasanya, setiap hari raya Islam ataupun hari besar Galungan, kami sering berbagi makanan...

Bin Basra said...

salam, saudara sheikh!saya juga telah melawati blog saudara dan saya mohon untuk dipautkan dalam blog saya supaya memudahkan saya membaca entry2 yang lain. tq. kipli